Kerajaan lamuri pusat islam pertama di nusantara yang nyaris hilang
![]() |
| Situs peninggalan Kerajaan Lamuri di pesisir Aceh, pusat perdagangan dan penyebaran Islam tertua di Nusan |
Kalau kita membaca buku sejarah sekolah, biasanya yang paling sering disebut sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Samudera Pasai. Padahal, ada satu peradaban yang lebih tua, posisinya lebih strategis, dan sudah mengenal Islam jauh sebelum kerajaan-kerajaan besar lainnya berdiri. Namanya adalah Kerajaan Lamuri.
Letaknya berada di ujung paling barat Pulau Sumatera, tepatnya di wilayah yang sekarang masuk ke daerah Aceh Besar. Sayangnya, namanya sering tertutup oleh sejarah kerajaan yang lebih besar sesudahnya, sehingga banyak orang bahkan tidak tahu bahwa peradaban ini pernah ada dan memegang peran sangat penting.
Bagaimana menurut Sains: Bukti Fisik dan Usia Peradaban
Dari sisi penelitian ilmiah dan arkeologi, keberadaan Lamuri sangat jelas terbukti. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan dan BRIN, ditemukan lebih dari 80 batu nisan kuno yang bertuliskan aksara Arab, dengan hasil penanggalan karbon menunjukkan usianya sudah ada sejak abad ke-9 Masehi.
Selain batu nisan, juga ditemukan sisa keramik dari Cina, mata uang emas dan perak dari Timur Tengah, serta sisa bangunan pemukiman yang menunjukkan bahwa wilayah ini sudah menjadi tempat tinggal yang teratur dan maju sejak ribuan tahun lalu. Temuan ini membuktikan bahwa Lamuri bukan sekadar tempat singgah biasa, melainkan sebuah kerajaan yang sudah memiliki sistem pemerintahan dan hubungan dengan bangsa lain sejak lama.
Lamuri Sebagai Pusat Perdagangan Dunia
Secara letak geografis, Lamuri berada tepat di mulut Selat Malaka — jalur perdagangan terpadat pada masa itu. Kapal-kapal dari Arab, Persia, India, dan Cina pasti singgah di sini untuk beristirahat, mengisi persediaan air dan makanan, sekaligus menukar barang dagangan.
Catatan dari pelaut besar seperti Ibnu Battuta dan penulis Cina bernama Ma Huan menyebutkan bahwa penduduk Lamuri hidup damai, ramah, dan sudah terbiasa berinteraksi dengan berbagai bangsa. Kehidupan masyarakatnya berkembang pesat karena aliran barang dan uang yang terus masuk, sehingga melahirkan budaya yang terbuka dan beragam.
Awal Masuknya Islam ke Nusantara
Banyak peneliti sepakat bahwa Lamuri adalah gerbang pertama masuknya ajaran Islam ke wilayah Indonesia. Karena menjadi tempat bertemunya pedagang dari Timur Tengah, ajaran Islam dibawa secara bertahap, bukan dengan paksaan, melainkan melalui interaksi dagang, perkawinan, dan kebiasaan sehari-hari.
Menurut catatan sejarah agama, raja-raja Lamuri sudah memeluk Islam sejak abad ke-9 atau ke-10 Masehi — sekitar 200 tahun lebih awal dibandingkan kerajaan Islam lain di sekitarnya. Ajaran yang dibawa pun berkembang secara damai, menyatu dengan tradisi lokal yang sudah ada sebelumnya, dan menjadi dasar kepercayaan masyarakat setempat hingga sekarang.
Mengapa Lamuri Nyaris Terlupakan?
Seiring berjalannya waktu, posisi Lamuri perlahan tergeser. Setelah berkembang selama berabad-abad, wilayahnya kemudian menyatu dengan Kesultanan Aceh Darussalam yang sedang bangkit kekuasaannya. Akibatnya, nama Lamuri tidak lagi disebut sebagai kerajaan sendiri, melainkan menjadi bagian dari sejarah Aceh.
Selain itu, karena sumber tulisan tentang Lamuri tersebar di berbagai negara dan tidak banyak ditulis dalam buku pelajaran, informasi ini akhirnya tenggelam dan jarang dibahas lagi di media umum. Padahal, jejaknya menjadi bukti penting bahwa sejarah Islam dan perdagangan di Nusantara dimulai lebih awal dari yang sering kita dengar.
Kerajaan Lamuri adalah bukti nyata bahwa Nusantara sudah memiliki peradaban maju, hubungan luas dengan dunia luar, dan mengenal ajaran Islam sejak abad ke-9 Masehi. Meskipun namanya jarang disebut, perannya sebagai pintu gerbang dan pusat perdagangan tidak bisa dipisahkan dari sejarah pembentukan identitas bangsa Indonesia.
Melalui penelitian dan pengungkapan kembali jejaknya, kita bisa melengkapi potongan sejarah yang selama ini terlewatkan, sehingga gambaran masa lalu bangsa ini menjadi lebih lengkap dan akurat.
Sumber rujukan: Balai Arkeologi Medan, BRIN, Perpustakaan Nasional RI, Arsip Nasional RI, KITLV Leiden, dan Wikipedia Bahasa Indonesia

