Ketika Monetisasi Mengalahkan Martabat
![]() |
| Ilustrasi: gambar seorang pria sedang merekam dirinya menggunakan smartphone |
Infokuari: opini, gagasan, ide, pendapat, apapun itu yang bersumber dari pikiran manusia merupakan sebagian dari pada anugrah dari tuhan yang maha esa. Karena salah satu pembeda antara manusia dan makhluk hidup lainnya ialah pikiran. Dengan pikiran kita bisa melihat sesuatu yang mungkin tidak bisa orang lihat, dan dengan pikiran pula kita mampu mebedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, terkhusus di saat ini di jaman ini lebih tepatnya di era internet, dimana setiap orang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk dikenal. Melalui Media sosial sebuah ruang yang begitu luas terbuka bagi siapa pun untuk berbicara, berkarya, bahkan memperoleh penghasilan. Tentu Fenomena ini pada dasarnya adalah merupakan sebuah kemajuan jaman. Namun, di balik peluang tersebut, muncul satu pertanyaan yang menurut saya layak untuk kita renungkan:
“apakah kita masih menjaga martabat diri kita ketika berusaha menjadi pusat perhatian?”
Saat kita menampilkan sesuatu yang ada pada diri kita dan mempertontonkannya ke publik mandapat bayak perhatian adalah sesuatu yang di harap kan oleh banyak orang dan untuk melakukan itu di butuh kan rasa kepercayaan diri., namun sayangnya Kepercayaan diri sering kali disalahartikan sebagai kebebasan untuk melakukan apa saja di ruang publik. Padahal, percaya diri bukan semata mata berarti mengabaikan batas-batas yang menjaga kehormatan diri. Menjadi diri sendiri tidak sama dengan mempertontonkan segala sesuatu demi memperoleh perhatian, popularitas, atau keuntungan. Lalu mengabaikan semuanya.
Media sosial seolah perlahan membentuk budaya yang mengukur nilai seseorang berdasarkan jumlah tayangan, pengikut, dan interaksi. Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit orang yang rela mengorbankan privasi, harga diri, bahkan melakukan tindakan yang merendahkan dirinya sendiri dan juga orang lain hanya demi mendapatkan perhatian. Ketika perhatian dapat dikonversi menjadi uang melalui monetisasi, batas antara kreativitas dan eksploitasi diri menjadi semakin kabur.
Ironisnya, pedahal negara melalui berbagai aturan dan peraturan serta jaminan hak asasi manusia telah berupaya melindungi kehormatan setiap untuk setiap individu. Hak untuk dihormati sebagai manusia merupakan bagian dari nilai yang dijunjung tinggi dalam kehidupan bermasyarakat dan di jamin oleh negara. Namun, perlindungan tersebut akan kehilangan maknanya apabila seseorang dengan sadar mengabaikan martabatnya sendiri demi mengejar popularitas.
Tentu tidak ada yang salah dengan menghasilkan uang dari internet. Tidak Ada Yang salah dengan menjadi populer, Tidak ada yang keliru dengan menjadi kreator konten, influencer, maupun figur publik. Ataupun yang lainnya. Persoalannya muncul ketika monetisasi di jadikan sebagai tujuan satu satu nya hingga menghalalkan segala cara. Saat itu terjadi, nilai dari seorang manusia perlahan tidak lagi diukur dari integritas, ilmu, maupun kontribusinya, melainkan dari seberapa besar perhatian yang mampu ia ciptakan, dan ia dapatkan apa pun caranya.
Sebagai masyarakat digital, kita perlu kembali memahami bahwa harkat dan martabat manusia bukanlah sesuatu yang dapat ditukar dengan jumlah penonton atau besarnya pendapatan. Popularitas yang mungkin saja bersifat sementara, sedangkan kehormatan adalah sesuatu yang akan melekat pada diri seseorang dalam jangka waktu yang panjang.
Kemajuan teknologi seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hidup serta kualitas manusia itu sendiri. bukan justru malah mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sejati bukan hanya tentang seberapa terkenal kita di internet, melainkan tentang bagaimana kita tetap menjaga kehormatan, integritas, dan martabat sebagai manusia di tengah derasnya arus dunia digital…..


Komentar
Posting Komentar